00:00Ya, Bung Pan, Anda sebagai pembuka acara saat itu, apakah Anda melihat memang Panji punya niat jahat dalam komedi tunggal itu?
00:11Saya selaku opener Panji, Ben Sreya.
00:16Ben Sreya?
00:16Ben Sreya.
00:18Saya jadi tahu kenapa acara ini namanya bola liar, argumennya pada muter-muter semua ya.
00:25Sebenarnya kalau dibilang ada men Sreanya apa enggak, kayaknya enggak ada sih.
00:28Karena semua stand-up komedian itu enggak ada niat jahat, niatnya menghibur.
00:35Cuman kan kasih penekanannya, nama judulnya itu Men Sreya, bahwa ini enggak ada niat jahat dijamin tanpa Men Sreya.
00:42Kalaupun show-nya Panji yang ke-10 ini dikasih judul, misalnya si botak dari New York, itu enggak ngaruh.
00:50Ya, tetap enggak ada Men Sreanya, jadi itu menurut saya.
00:53Oh iya, Anda kan kemarin dimintai klarifikasi oleh Pekopolisian, apa saja yang dimintai klarifikasi?
00:59Kenal Panji dari mana gitu, yang santai-santai aja gitu.
01:04Yang santai-santai aja.
01:05Kayak orang itu kan, saya kan bukan orang yang ngerti hukum dan ngerti berurusan dengan polisi gitu.
01:11Karena kan saya warga negara yang baik.
01:14Saya, kayak orang itu kan asumsinya, oh kalau ini diklarifikasi sama polisi kayak di film Batman gitu.
01:20Mana Panji gitu, ternyata enggak santai aja gitu.
01:22Cuma ditanya-tanya, hal-hal biasa aja kayak, oh mau minta teh, kopi gitu.
01:27Saya cuma minta keadilan Pak.
01:31Jadi dari kasus yang menyeret Panji ini membuat Anda sebagai komika, jadi khawatir enggak menyampaikan materi-materi yang bentuknya kritik?
01:38Oh kebetulan saya tidak pernah kritik Mbak.
01:40Khawatir enggak khawatir, karena kita stand up tuh sebenarnya kan kembali lagi niatnya tuh menghibur gitu.
01:50Bukan slapstick yang kita ngejatuhin badan dan sebagainya.
01:53Jadi kan ini verbal tuh sangat rawan untuk digunakan gitu, sebagai senjata makan Tuhan.
02:00Padahal kan seninya sebagai stand up comedian itu justru kita mendekati garis-garis yang dianggap orang tuh,
02:11oh ternyata bercandaan kayak gitu, boleh enggak boleh gitu.
02:16Jadi khawatir enggak khawatir sih.
02:18Jadi kemarin materi Panji menurut Anda harusnya tidak layak dilaporkan, tidak ada yang merasa tersakiti?
02:23Kalau tersakiti kan saya enggak bisa ngomong untuk perasaannya orang.
02:27Tapi kalau dilaporkan sebaiknya jangan, tapi kalau ngeliat Panji di Juru Jivisi kayaknya lucu juga gitu.
02:34Dia stand up buat Napi gitu.
02:37Keru gitu.
02:38Oke, Mas Novel, lawakan enggak ada tujuan niat jahat kok.
02:43Lawakan memang tujuan.
02:44Niatnya menghibur aja.
02:45Tujuan, tujuan menghibur. Niat enggak tahu.
02:48Kalau udah kritik itu boleh dikatakan bisa provokator, bisa kritik yang membangun.
02:55Silahkan saja itu disampaikan.
02:58Tadi saya melihat apa yang disampaikan oleh stand up, penampilannya udah lucu gitu.
03:05Penampilannya udah lucu, apa yang disampaikan, itu saya terhibur.
03:08Karena saya juga sering menghibur daripada jamah-jamah saya untuk jangan monoton dalam hal apa yang saya sampaikan.
03:13Akan tetapi ketika penyampaian itu, maka saya harus keluar dari ranah politik.
03:19Saya enggak mau ikut dalam kritikan-kritikan yang disampaikan, kritikan-kritikan.
03:24Saya hanya mau masuk.
03:27Ada ranah di situ yang coba-coba ranah Sarah masuk.
03:32Ini sangat sensitif.
03:33Dan kita akan terpanggil.
03:35Mungkin sirkel kita beda-beda, lingkungan kita beda-beda.
03:41Mungkin lingkungan saya, lingkungan dakwah, masjid, musola, kemudian ponuk pesantren, majis taklim, majis taklim.
03:46Kemudian juga lingkungan-lingkungan kita dakwah.
03:50Jadi apa yang masuk dari mereka, kita tampung dan kita wakilin.
03:56Dan mereka rata-rata sangat betul-betul terusik.
03:59Nah, saya ingin ada efek jerak.
04:03Kalau untuk dialog, kita enggak pernah menutup diri untuk dialog.
04:08Kita akan pasti terbuka.
04:09Namun kita harus hargai proses hukum.
04:12Biarlah proses hukum ini berjalan untuk tegaknya keadilan.
04:16Untuk tegaknya kebenaran.
04:18Jangan sampai nilai-nilai kebenaran ini tidak bisa ditegakkan.
04:22Nah, nilai-nilai kebenaran ini harus ditegakkan tanpa lihat pandang bulu.
04:26Dan saya pelapor, saya bukan baru sekali ini melaporkan.
04:29Saya enggak pernah pandang bulu, enggak pilih kasih.
04:31Saya laporan mau jenderal, mau politikus, bahkan ada ustadz juga yang masuk ke dalam ranah-ranah.
04:37Jadi Anda melihat kemarin materinya...
04:39Sepropesi saya, saya laporin.
04:41Materi panci kemarin menurut Anda itu ada indikasi ingin menghasut begitu?
04:45Sangat syarat-syarat saya melihat untuk menjauhkan agama.
04:51Menjauhkan agama.
04:52Bung Pen, katanya ada upaya untuk menghasut katanya.
04:55Anda ngerasa gitu enggak? Anda kan di situ nonton sampai akhir.
04:58Enggak.
04:59Enggak.
04:59Ya, selesai acara saya tidur.
05:01Jadi, perut Anda, Mas Novel, melakukan pelaporan salah alaman atau gimana?
05:05Jadi, kalau ngidul nih bola liar jadi liar.
05:06Ini kita bacaan sama-sama nih.
05:08Poin demi poin.
05:09Ya, Bang.
05:09Kita perhatikan kata demi kata.
05:12Di mana kita harus bisa mengambil poin-poin yang penting, silahkan dicernak masing-masing.
05:20Jadi, bukannya hanya satu-satu, bukan.
05:23Ini sudah kita kumpulin, mah.
05:25Bahkan masih kurang.
05:26Jadi, pertama satu poin yang disampaikan.
05:30Memang harus diakui, makanya di sini kok enggak ada ditayangkan.
05:33Mesti ditayangkan dong.
05:34Jelasin.
05:35Satu persatu.
05:35Memang harus diakui alasan kita pilih pemimpin harus lebih baik.
05:40Itu benar.
05:41Soalnya alasan lu aneh-aneh.
05:43Aneh-aneh.
05:45Alasan lu aneh-aneh.
05:46Kenapa aneh-anehnya?
05:48Ada orang milih pemimpin berdasarkan ibadahnya.
05:51Jadi, kalau salah satu orang memilih kreatif pemimpin berdasarkan ibadah, aneh.
05:56Ini menyudutkan agama.
05:58Ini menyudutkan apa yang dia peluk sendiri.
06:01Kalau Ahok kita melihat,
06:03dia mungkin kagak ngerti.
06:04Harus kita maklumin juga.
06:05Walaupun harus dikena sanksi tegas,
06:07walaupun harus saksi tegas.
06:08Ini ngerti.
06:09Itu pointingnya menurut Anda ke agama atau ke pemilih?
06:14Ini agama.
06:15Karena ibadahnya, ibadah itu sudah masuk ranah agama.
06:19Gue mau milih yang sholatnya enggak pernah bolong.
06:22Gue mau milih pemimpin yang sholatnya enggak pernah bolong.
06:25Itu.
06:25Jadi, satu dan dua ini satu poin aneh.
06:28Aneh ini adalah orang yang sholatnya enggak bolong-bolong dianggap aneh.
06:32Pemimpin yang sholatnya agamanya itu enggak bolong-bolong, itu aneh.
06:38Karena cuma dibilang rajin, bukan baik.
06:40Nah, masuk nih poin yang ketiga.
06:42Seakan-akan kalau sholatnya enggak pernah bolong, berarti orang baik.
06:45Emang iya.
06:46Orang rajin, kata dia.
06:48Jadi bukan orang baik.
06:49Ini kena lagi.
06:50Sholat udah tentu, udah pasti, udah menentukan.
06:54Nilai sholat itu mengajak kita kebaikan.
06:57Mungkin kalau dijelaskan individunya, kita toleransi.
06:59Ini bukan individu.
07:01Ini nilai ibadahnya.
07:02Ini sholatnya.
07:03Nah, yang keempat.
07:05Emang sholatnya enggak pernah bolong otomatis baik.
07:08Dibilang otomatis baik.
07:09Dipertanyakan.
07:10Oke.
07:10Nah, enggak kata dia.
07:14Cuman rajin.
07:15Jadi cuman rajin.
07:16Nilai ibadah yang umat suam kerjain lima waktu.
07:19Yang mulai dari subuh.
07:20Cuman dibilang rajin.
07:21Enggak ada nilai kebaikan.
07:22Pernah dan agama atau?
07:23Masih ada satu poin lain.
07:24Penjelasan panji itu secara pendekatan ilmu keagaman, ada.
07:31Misalnya ada surat Al-Ma'un ya, yang mengatakan,
07:36Celakalah orang yang sholat.
07:38Siapa yang sholat, yang suka berbuat ria.
07:43Yang kemudian sebenarnya bolong-bolong sholatnya.
07:47Nah, orang juga tidak bisa menilai orang yang terlihat.
07:53Oh, dia tidak pernah bolong-bolong kata si'ah.
07:57Dan itu menjadi standar untuk pemilih semuanya.
07:59Karena dia tidak menonton orang ini betul-betul sholat tepat waktu atau tidak.
08:04Semua pemilih itu.
08:05Oleh karena itu, itu menur panji bukan jadi standar harusnya.
08:12Standarnya harusnya track record.
08:13Kan dijelaskan itu.
08:15Kan aneh-aneh, dibilang kepada aneh-aneh.
08:17Makanya, jangankah aneh-aneh.
08:19Quran bilang, celakalah kita yang menilai.
08:22Dalam konteksnya masuk.
08:23Dalam tafsir Ibn Abbas, iya.
08:26Tafsir Ibn Abbas bisa beda.
08:28Tapi, tafsir Ibn Abbas mengatakan, celakalah orang-orang yang suka memamerkan sholatnya, ria, dan lain-lain itu.
08:35Termasuk ketika pemilu datang.
08:37Itu poin besar dari standar itu kalau ditonton.
08:41Kalau tiba-tiba ada orang ketika kampanye, memamerin sholatnya,
08:46diomongin tidak bolong-bolong sholatnya, itu jangan jadi pilihan.
08:51Pilihlah karena track recordnya, dan lain-lain.
08:54Itu.
08:55Jadi, pendekatan agama sendiri, ada nilai itu.
08:59Pendekatan secara ilmu kepemiluan, sesuai.
09:03Bahwa orang jangan bersembunyi dari para pemilih untuk mengkamuflasikan track recordnya.
09:10Itu yang ingin dibicarakan panji.
09:12Ya, yang pertama, saya kira itu terlalu jauh tafsirannya ke sana,
09:16karena yang bersangkutan juga bukan panji kan gitu.
09:18Jadi, selasa aja orang berpendapat.
09:20Tapi yang ingin saya tanyakan kepada Pak Ben tadi.
09:21Rupanya ini panji rupanya.
09:23Ya, saya tanyaan dulu.
09:25Ini saya tanya Pak Ben dulu.
09:26Baik, Mas, panji.
09:27Karena ini pembuka ya, gitu kan.
09:29Iya, Bang.
09:32Anda katanya diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya.
09:38Apakah Anda ikut sebagai terlapor juga?
09:41Terlapor gimana tuh?
09:42Dilaporkan orang.
09:43Tidak.
09:44Tidak ada ya.
09:45Itu membuktikan bahwasannya,
09:48orang kalau memang tidak ada penyibu kepada rana pripat,
09:51tunggu dulu.
09:51Tunggu dulu.
09:52Anda tadi bicara, saya tidak potong.
09:54Ya, saya juga ingin.
09:55Jadi, kalau saya potong aneh bicara, Anda keberatan saya lihat.
09:58Karena logikanya aneh itu.
09:59Jadi, jangan potong saya dulu bicara,
10:01karena saya tidak memotong aneh.
10:02Silahkan, lanjut.
10:03Karena kita bukan bis ILS.
10:05Jadi, ini menunjukkan bahwasannya,
10:08orang tidak ada persoalan,
10:10tidak ada masalah,
10:11ketika memang tidak ada menyinggung kepada rana hal-hal memang yang pripat.
10:15Seperti kita lihat band tadi,
10:16dia membuka,
10:17saya juga menonton,
10:18apa,
10:19stand up beliau lucu.
10:21Ya kan, gitu.
10:21Dan kita juga tidak ada yang disinggung dia,
10:25masalah apapun itu.
10:27Tidak ada masalah suku, agama.
10:30Sehingga orang tidak melaporkan dia, gitu.
10:32Jadi, bukan hari ini kita melihat panjinya.
10:35Tapi yang dilihat adalah perbuatannya.
10:38Kalau perbuatan dugaan tindapidana yang dilakukan berulang-ulang,
10:41itu masuk dalam kategori residip.
10:43Kan, gitu.
10:44Nah, ini peristiwa ini kan bukan hanya sekali dua kali.
10:47Tadi si Anopel sudah bilang bahwasannya ini berkali-kali kan, gitu.
10:51Bahkan bertubi-tubi.
10:53Bertubi-tubi.
10:54Satu waktu.
10:54Nah, bahkan terhadap panji ini juga,
10:59pemuda Toraja juga melaporkan dengan kasus penistan juga.
11:03Kan, gitu.
11:04Nah, dan statusnya saat ini sudah naik penyidikan.
11:07Artinya apa?
11:07Sudah ada dugaan tindak pidana.
11:11Yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
11:13Bukti permulaannya sudah cukup.
11:14Tinggal penyidik melakukan perkara tersangkanya siapa.
11:18Kan, gitu.
11:19Nah, terlapornya dia.
11:21Kalau memang itu dia tidak melakukan perbuatan dugaan tindak pidana,
11:24nggak mungkin naik sidik.
11:25Kan, begitu.
11:26Nah, yang menjadi persoalan adalah,
11:28ketika memang seseorang, ya kan,
11:32yang menyinggung masalah agama,
11:35menyinggung masalah suku,
11:37tapi dia berlindung dibalik kritik.
11:39Saya kira ini yang tidak layak dan kurang elok juga.
11:42Untuk berlindung dibalik kritik.
11:44Kenapa?
11:45Ya, karena menurut saya kritik itu adalah evaluasi data
11:48yang objektif berbasis solusi.
11:51Kan, gitu.
11:52Nah, dia ini kita lihat seperti bola liar.
11:54Dia menyampaikan masalah agama,
11:57ya sholat,
11:58suku,
11:59dan ada lagi masalah ormas,
12:00dan lain-lainnya.
12:01Sehingga yang melaporkan dia bukan hanya novel saja.
12:04Melaporkan dia banyak orang.
12:06Artinya ada keterlukaan orang yang melukai hati orang lain
12:10terkait dengan kata-kata dia ini.
12:12Dan saya melihat,
12:13dia ini sangat egois.
12:15Kenapa sangat egois?
12:17Para pelapurnya sudah memberikan dia kesempatan untuk minta maaf.
12:20Apa jawaban dia?
12:22Ngapain saya minta maaf?
12:23Ketika dia gitu kan,
12:24salah saya apa, gitu.
12:25Berarti dia merasa paling,
12:27apa, gitu.
12:28Jumawa, gitu.
12:28Dan merasa paling benar, gitu loh.
12:31Seharusnya,
12:32dia minta maaf datangin tuh ya orang yang merasa terluka hatinya.
12:35Nah, datang ke peran novel.
12:37Tapi kan sudah ke MUI, Tani.
12:38Hah?
12:39Beliau sudah ke MUI.
12:39Ke pelapornya kan ini.
12:40Jadi gini, jadi gini.
12:41Oh, minta maafnya ke Mas Novel.
12:43Ya, pelapor dulu dong.
12:44Jadi ada korban.
12:44Oke, nanti dia jawab Mas Novel,
12:46kami selamat kembali saudara.
12:47Tetap di Bola Lian.
12:47Terima kasih.
Komentar