Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Komika Ben Dhanio, yang tampil sebagai pembuka dalam pertunjukan Panji Pragiwaksono sekaligus saksi yang telah dimintai klarifikasi polisi, menilai tidak terdapat niat jahat dalam materi Mens Rea.

Sebaliknya, Wakil Ketua TPUA sekaligus pelapor, Novel Bamukmin, memandang materi Panji telah memasuki ranah sensitif agama.

"Kita stand up tuh sebenarnya kan kembali lagi niatnya itu menghibur, bukan kita ngejatuhin badan dan sebagainya. Jadi kan ini verbal tuh sangat rawan untuk digunakan gitu sebagai senjata makan tuan. Padahal kan seninya sebagai stand up comedian itu justru kita mendekati garis-garis yang dianggap orang tuh 'oh ternyata bercandaan kayak gitu boleh enggak boleh' gitu," kata Ben dalam program BOLA LIAR, Jumat (6/2/2026).

Baca Juga Debat Feri Amsari vs Novel Bamukmin soal Konten Mens Rea Pandji Pragiwaksono | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/649083/debat-feri-amsari-vs-novel-bamukmin-soal-konten-mens-rea-pandji-pragiwaksono-bola-liar



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/649084/mens-rea-pandji-novel-bamukmin-singgung-penegakan-hukum-komika-ben-soroti-niat-menghibur
Transkrip
00:00Ya, Bung Pan, Anda sebagai pembuka acara saat itu, apakah Anda melihat memang Panji punya niat jahat dalam komedi tunggal itu?
00:11Saya selaku opener Panji, Ben Sreya.
00:16Ben Sreya?
00:16Ben Sreya.
00:18Saya jadi tahu kenapa acara ini namanya bola liar, argumennya pada muter-muter semua ya.
00:25Sebenarnya kalau dibilang ada men Sreanya apa enggak, kayaknya enggak ada sih.
00:28Karena semua stand-up komedian itu enggak ada niat jahat, niatnya menghibur.
00:35Cuman kan kasih penekanannya, nama judulnya itu Men Sreya, bahwa ini enggak ada niat jahat dijamin tanpa Men Sreya.
00:42Kalaupun show-nya Panji yang ke-10 ini dikasih judul, misalnya si botak dari New York, itu enggak ngaruh.
00:50Ya, tetap enggak ada Men Sreanya, jadi itu menurut saya.
00:53Oh iya, Anda kan kemarin dimintai klarifikasi oleh Pekopolisian, apa saja yang dimintai klarifikasi?
00:59Kenal Panji dari mana gitu, yang santai-santai aja gitu.
01:04Yang santai-santai aja.
01:05Kayak orang itu kan, saya kan bukan orang yang ngerti hukum dan ngerti berurusan dengan polisi gitu.
01:11Karena kan saya warga negara yang baik.
01:14Saya, kayak orang itu kan asumsinya, oh kalau ini diklarifikasi sama polisi kayak di film Batman gitu.
01:20Mana Panji gitu, ternyata enggak santai aja gitu.
01:22Cuma ditanya-tanya, hal-hal biasa aja kayak, oh mau minta teh, kopi gitu.
01:27Saya cuma minta keadilan Pak.
01:31Jadi dari kasus yang menyeret Panji ini membuat Anda sebagai komika, jadi khawatir enggak menyampaikan materi-materi yang bentuknya kritik?
01:38Oh kebetulan saya tidak pernah kritik Mbak.
01:40Khawatir enggak khawatir, karena kita stand up tuh sebenarnya kan kembali lagi niatnya tuh menghibur gitu.
01:50Bukan slapstick yang kita ngejatuhin badan dan sebagainya.
01:53Jadi kan ini verbal tuh sangat rawan untuk digunakan gitu, sebagai senjata makan Tuhan.
02:00Padahal kan seninya sebagai stand up comedian itu justru kita mendekati garis-garis yang dianggap orang tuh,
02:11oh ternyata bercandaan kayak gitu, boleh enggak boleh gitu.
02:16Jadi khawatir enggak khawatir sih.
02:18Jadi kemarin materi Panji menurut Anda harusnya tidak layak dilaporkan, tidak ada yang merasa tersakiti?
02:23Kalau tersakiti kan saya enggak bisa ngomong untuk perasaannya orang.
02:27Tapi kalau dilaporkan sebaiknya jangan, tapi kalau ngeliat Panji di Juru Jivisi kayaknya lucu juga gitu.
02:34Dia stand up buat Napi gitu.
02:37Keru gitu.
02:38Oke, Mas Novel, lawakan enggak ada tujuan niat jahat kok.
02:43Lawakan memang tujuan.
02:44Niatnya menghibur aja.
02:45Tujuan, tujuan menghibur. Niat enggak tahu.
02:48Kalau udah kritik itu boleh dikatakan bisa provokator, bisa kritik yang membangun.
02:55Silahkan saja itu disampaikan.
02:58Tadi saya melihat apa yang disampaikan oleh stand up, penampilannya udah lucu gitu.
03:05Penampilannya udah lucu, apa yang disampaikan, itu saya terhibur.
03:08Karena saya juga sering menghibur daripada jamah-jamah saya untuk jangan monoton dalam hal apa yang saya sampaikan.
03:13Akan tetapi ketika penyampaian itu, maka saya harus keluar dari ranah politik.
03:19Saya enggak mau ikut dalam kritikan-kritikan yang disampaikan, kritikan-kritikan.
03:24Saya hanya mau masuk.
03:27Ada ranah di situ yang coba-coba ranah Sarah masuk.
03:32Ini sangat sensitif.
03:33Dan kita akan terpanggil.
03:35Mungkin sirkel kita beda-beda, lingkungan kita beda-beda.
03:41Mungkin lingkungan saya, lingkungan dakwah, masjid, musola, kemudian ponuk pesantren, majis taklim, majis taklim.
03:46Kemudian juga lingkungan-lingkungan kita dakwah.
03:50Jadi apa yang masuk dari mereka, kita tampung dan kita wakilin.
03:56Dan mereka rata-rata sangat betul-betul terusik.
03:59Nah, saya ingin ada efek jerak.
04:03Kalau untuk dialog, kita enggak pernah menutup diri untuk dialog.
04:08Kita akan pasti terbuka.
04:09Namun kita harus hargai proses hukum.
04:12Biarlah proses hukum ini berjalan untuk tegaknya keadilan.
04:16Untuk tegaknya kebenaran.
04:18Jangan sampai nilai-nilai kebenaran ini tidak bisa ditegakkan.
04:22Nah, nilai-nilai kebenaran ini harus ditegakkan tanpa lihat pandang bulu.
04:26Dan saya pelapor, saya bukan baru sekali ini melaporkan.
04:29Saya enggak pernah pandang bulu, enggak pilih kasih.
04:31Saya laporan mau jenderal, mau politikus, bahkan ada ustadz juga yang masuk ke dalam ranah-ranah.
04:37Jadi Anda melihat kemarin materinya...
04:39Sepropesi saya, saya laporin.
04:41Materi panci kemarin menurut Anda itu ada indikasi ingin menghasut begitu?
04:45Sangat syarat-syarat saya melihat untuk menjauhkan agama.
04:51Menjauhkan agama.
04:52Bung Pen, katanya ada upaya untuk menghasut katanya.
04:55Anda ngerasa gitu enggak? Anda kan di situ nonton sampai akhir.
04:58Enggak.
04:59Enggak.
04:59Ya, selesai acara saya tidur.
05:01Jadi, perut Anda, Mas Novel, melakukan pelaporan salah alaman atau gimana?
05:05Jadi, kalau ngidul nih bola liar jadi liar.
05:06Ini kita bacaan sama-sama nih.
05:08Poin demi poin.
05:09Ya, Bang.
05:09Kita perhatikan kata demi kata.
05:12Di mana kita harus bisa mengambil poin-poin yang penting, silahkan dicernak masing-masing.
05:20Jadi, bukannya hanya satu-satu, bukan.
05:23Ini sudah kita kumpulin, mah.
05:25Bahkan masih kurang.
05:26Jadi, pertama satu poin yang disampaikan.
05:30Memang harus diakui, makanya di sini kok enggak ada ditayangkan.
05:33Mesti ditayangkan dong.
05:34Jelasin.
05:35Satu persatu.
05:35Memang harus diakui alasan kita pilih pemimpin harus lebih baik.
05:40Itu benar.
05:41Soalnya alasan lu aneh-aneh.
05:43Aneh-aneh.
05:45Alasan lu aneh-aneh.
05:46Kenapa aneh-anehnya?
05:48Ada orang milih pemimpin berdasarkan ibadahnya.
05:51Jadi, kalau salah satu orang memilih kreatif pemimpin berdasarkan ibadah, aneh.
05:56Ini menyudutkan agama.
05:58Ini menyudutkan apa yang dia peluk sendiri.
06:01Kalau Ahok kita melihat,
06:03dia mungkin kagak ngerti.
06:04Harus kita maklumin juga.
06:05Walaupun harus dikena sanksi tegas,
06:07walaupun harus saksi tegas.
06:08Ini ngerti.
06:09Itu pointingnya menurut Anda ke agama atau ke pemilih?
06:14Ini agama.
06:15Karena ibadahnya, ibadah itu sudah masuk ranah agama.
06:19Gue mau milih yang sholatnya enggak pernah bolong.
06:22Gue mau milih pemimpin yang sholatnya enggak pernah bolong.
06:25Itu.
06:25Jadi, satu dan dua ini satu poin aneh.
06:28Aneh ini adalah orang yang sholatnya enggak bolong-bolong dianggap aneh.
06:32Pemimpin yang sholatnya agamanya itu enggak bolong-bolong, itu aneh.
06:38Karena cuma dibilang rajin, bukan baik.
06:40Nah, masuk nih poin yang ketiga.
06:42Seakan-akan kalau sholatnya enggak pernah bolong, berarti orang baik.
06:45Emang iya.
06:46Orang rajin, kata dia.
06:48Jadi bukan orang baik.
06:49Ini kena lagi.
06:50Sholat udah tentu, udah pasti, udah menentukan.
06:54Nilai sholat itu mengajak kita kebaikan.
06:57Mungkin kalau dijelaskan individunya, kita toleransi.
06:59Ini bukan individu.
07:01Ini nilai ibadahnya.
07:02Ini sholatnya.
07:03Nah, yang keempat.
07:05Emang sholatnya enggak pernah bolong otomatis baik.
07:08Dibilang otomatis baik.
07:09Dipertanyakan.
07:10Oke.
07:10Nah, enggak kata dia.
07:14Cuman rajin.
07:15Jadi cuman rajin.
07:16Nilai ibadah yang umat suam kerjain lima waktu.
07:19Yang mulai dari subuh.
07:20Cuman dibilang rajin.
07:21Enggak ada nilai kebaikan.
07:22Pernah dan agama atau?
07:23Masih ada satu poin lain.
07:24Penjelasan panji itu secara pendekatan ilmu keagaman, ada.
07:31Misalnya ada surat Al-Ma'un ya, yang mengatakan,
07:36Celakalah orang yang sholat.
07:38Siapa yang sholat, yang suka berbuat ria.
07:43Yang kemudian sebenarnya bolong-bolong sholatnya.
07:47Nah, orang juga tidak bisa menilai orang yang terlihat.
07:53Oh, dia tidak pernah bolong-bolong kata si'ah.
07:57Dan itu menjadi standar untuk pemilih semuanya.
07:59Karena dia tidak menonton orang ini betul-betul sholat tepat waktu atau tidak.
08:04Semua pemilih itu.
08:05Oleh karena itu, itu menur panji bukan jadi standar harusnya.
08:12Standarnya harusnya track record.
08:13Kan dijelaskan itu.
08:15Kan aneh-aneh, dibilang kepada aneh-aneh.
08:17Makanya, jangankah aneh-aneh.
08:19Quran bilang, celakalah kita yang menilai.
08:22Dalam konteksnya masuk.
08:23Dalam tafsir Ibn Abbas, iya.
08:26Tafsir Ibn Abbas bisa beda.
08:28Tapi, tafsir Ibn Abbas mengatakan, celakalah orang-orang yang suka memamerkan sholatnya, ria, dan lain-lain itu.
08:35Termasuk ketika pemilu datang.
08:37Itu poin besar dari standar itu kalau ditonton.
08:41Kalau tiba-tiba ada orang ketika kampanye, memamerin sholatnya,
08:46diomongin tidak bolong-bolong sholatnya, itu jangan jadi pilihan.
08:51Pilihlah karena track recordnya, dan lain-lain.
08:54Itu.
08:55Jadi, pendekatan agama sendiri, ada nilai itu.
08:59Pendekatan secara ilmu kepemiluan, sesuai.
09:03Bahwa orang jangan bersembunyi dari para pemilih untuk mengkamuflasikan track recordnya.
09:10Itu yang ingin dibicarakan panji.
09:12Ya, yang pertama, saya kira itu terlalu jauh tafsirannya ke sana,
09:16karena yang bersangkutan juga bukan panji kan gitu.
09:18Jadi, selasa aja orang berpendapat.
09:20Tapi yang ingin saya tanyakan kepada Pak Ben tadi.
09:21Rupanya ini panji rupanya.
09:23Ya, saya tanyaan dulu.
09:25Ini saya tanya Pak Ben dulu.
09:26Baik, Mas, panji.
09:27Karena ini pembuka ya, gitu kan.
09:29Iya, Bang.
09:32Anda katanya diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya.
09:38Apakah Anda ikut sebagai terlapor juga?
09:41Terlapor gimana tuh?
09:42Dilaporkan orang.
09:43Tidak.
09:44Tidak ada ya.
09:45Itu membuktikan bahwasannya,
09:48orang kalau memang tidak ada penyibu kepada rana pripat,
09:51tunggu dulu.
09:51Tunggu dulu.
09:52Anda tadi bicara, saya tidak potong.
09:54Ya, saya juga ingin.
09:55Jadi, kalau saya potong aneh bicara, Anda keberatan saya lihat.
09:58Karena logikanya aneh itu.
09:59Jadi, jangan potong saya dulu bicara,
10:01karena saya tidak memotong aneh.
10:02Silahkan, lanjut.
10:03Karena kita bukan bis ILS.
10:05Jadi, ini menunjukkan bahwasannya,
10:08orang tidak ada persoalan,
10:10tidak ada masalah,
10:11ketika memang tidak ada menyinggung kepada rana hal-hal memang yang pripat.
10:15Seperti kita lihat band tadi,
10:16dia membuka,
10:17saya juga menonton,
10:18apa,
10:19stand up beliau lucu.
10:21Ya kan, gitu.
10:21Dan kita juga tidak ada yang disinggung dia,
10:25masalah apapun itu.
10:27Tidak ada masalah suku, agama.
10:30Sehingga orang tidak melaporkan dia, gitu.
10:32Jadi, bukan hari ini kita melihat panjinya.
10:35Tapi yang dilihat adalah perbuatannya.
10:38Kalau perbuatan dugaan tindapidana yang dilakukan berulang-ulang,
10:41itu masuk dalam kategori residip.
10:43Kan, gitu.
10:44Nah, ini peristiwa ini kan bukan hanya sekali dua kali.
10:47Tadi si Anopel sudah bilang bahwasannya ini berkali-kali kan, gitu.
10:51Bahkan bertubi-tubi.
10:53Bertubi-tubi.
10:54Satu waktu.
10:54Nah, bahkan terhadap panji ini juga,
10:59pemuda Toraja juga melaporkan dengan kasus penistan juga.
11:03Kan, gitu.
11:04Nah, dan statusnya saat ini sudah naik penyidikan.
11:07Artinya apa?
11:07Sudah ada dugaan tindak pidana.
11:11Yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
11:13Bukti permulaannya sudah cukup.
11:14Tinggal penyidik melakukan perkara tersangkanya siapa.
11:18Kan, gitu.
11:19Nah, terlapornya dia.
11:21Kalau memang itu dia tidak melakukan perbuatan dugaan tindak pidana,
11:24nggak mungkin naik sidik.
11:25Kan, begitu.
11:26Nah, yang menjadi persoalan adalah,
11:28ketika memang seseorang, ya kan,
11:32yang menyinggung masalah agama,
11:35menyinggung masalah suku,
11:37tapi dia berlindung dibalik kritik.
11:39Saya kira ini yang tidak layak dan kurang elok juga.
11:42Untuk berlindung dibalik kritik.
11:44Kenapa?
11:45Ya, karena menurut saya kritik itu adalah evaluasi data
11:48yang objektif berbasis solusi.
11:51Kan, gitu.
11:52Nah, dia ini kita lihat seperti bola liar.
11:54Dia menyampaikan masalah agama,
11:57ya sholat,
11:58suku,
11:59dan ada lagi masalah ormas,
12:00dan lain-lainnya.
12:01Sehingga yang melaporkan dia bukan hanya novel saja.
12:04Melaporkan dia banyak orang.
12:06Artinya ada keterlukaan orang yang melukai hati orang lain
12:10terkait dengan kata-kata dia ini.
12:12Dan saya melihat,
12:13dia ini sangat egois.
12:15Kenapa sangat egois?
12:17Para pelapurnya sudah memberikan dia kesempatan untuk minta maaf.
12:20Apa jawaban dia?
12:22Ngapain saya minta maaf?
12:23Ketika dia gitu kan,
12:24salah saya apa, gitu.
12:25Berarti dia merasa paling,
12:27apa, gitu.
12:28Jumawa, gitu.
12:28Dan merasa paling benar, gitu loh.
12:31Seharusnya,
12:32dia minta maaf datangin tuh ya orang yang merasa terluka hatinya.
12:35Nah, datang ke peran novel.
12:37Tapi kan sudah ke MUI, Tani.
12:38Hah?
12:39Beliau sudah ke MUI.
12:39Ke pelapornya kan ini.
12:40Jadi gini, jadi gini.
12:41Oh, minta maafnya ke Mas Novel.
12:43Ya, pelapor dulu dong.
12:44Jadi ada korban.
12:44Oke, nanti dia jawab Mas Novel,
12:46kami selamat kembali saudara.
12:47Tetap di Bola Lian.
12:47Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan